Memulai Habitus Baik dari Hirarki
Keterlambatan sosialisasi hasil SAGKI 2005 tidak menghambat daya kritis umat katolik untuk terus mempertanyakannya. Salah satunya yang terjadi di Surabaya. Setidaknya, sudah beberapa kali Fusi Nusantoro, Pr, salah seorang delegasi SAGKI dari Keuskupan Surabaya membuat forum diskusi untuk menjaring masukan dari umat seputar usaha sosialisasi hasil SAGKI 2005. Ternyata, banyak catatan kritis yang terlontar dalam diskusi-diskusi tersebut. Bisa jadi ini adalah gejala terbentuknya ‘habitus baru’. Ataukah hanya ‘hangat-hangat tai ayam?’
Pertemuan pertama terjadi di kantin Paroki Hati Kudus Yesus (Katedral) Surabaya. Waktu itu tidak banyak orang yang datang karena memang baru pertama kali diadakan (setelah tiga bulan SAGKI usai). Sedangkan pertemuan kedua terjadi di Margasiswa PMKRI Keuskupan Surabaya St. Lukas.
Pada pertemuan di PMKRI, Antonius Sumitomo Ketua Presidium FMKI Surabaya, mengatakan keterlambatan sosialisasi SAGKI yang sudah memasuki bulan keempat itu merupakan gejala “kemunduran orang katolik.” Kritik itu bisa jadi sangat pedas, namun jika kita mau melihat secara jeli maka kita bisa memahami kritik pedas Sumitomo itu. Fakta kemunduran itu sedang dan sudah terjadi terlihat di berbagai bidang, khususnya dalam organisasi dan pendidikan. Di bidang organisasi, orang katolik pernah terkenal dengan disiplinnya. Ketika sekretaris Golongan Karya (Golkar) dipegang orang katolik, misalnya, notulensi rapat selalu tersusun dengan rapi seketika setelah rapat usai. Kabarnya dalam hal tulis-menulis orang katolik memang selangkah lebih baik dibandingkan “yang lain”. Ini juga dibuktikan dengan besarnya Harian Kompas yang sebagian besar diprakarsai oleh orang katolik. Bahkan sampai sekarang, pendapat Jakob Oetama Pimpinan Umum Kompas masih sering menjadi bahan pertimbangan dari KWI dalam pengambilan keputusan. Salah satu yang masih segar adalah penggunaan tiga poros (negara, pasar, dan masyarakat) sebagai pisau analisis fenomena antara lain juga karena sering digunakan Jakob dalam setiap analisis. Kini, makin sedikit orang katolik yang mau terlibat dalam kegiatan berorganisasi, khususnya pada organisasi pelajar dan mahasiswa.
Di sekolah, semua energi difokuskan pada pembangunan kognisi siswa, dan sedikit mengabaikan perkembangan humaniora para siswa. Model pendidikan di sekolah membuat siswa seperti harus menghabiskan waktu untuk menghafalkan materi-materi mata pelajaran, dan tidak menyisakan sama sekali waktu untuk bermain dan bersosialisasi. Akibatnya, ketika masuk ke dalam kehidupan sebenarnya mereka pun tidak terlatih untuk bergulat dalam kehidupan masyarakat yang tersegmen dalam organisasi-organisasi masyarakat yang beragam. Habitus yang muncul adalah habitus mencari jalan pintas, dengan mengabaikan proses menuju suatu tujuan. Bukti kemerosotan juga terjadi di bidang pendidikan. Dengan jelas kita bisa mengatakan kemerosotan yang tajam yang dialami pendidikan katolik. Indikator yang paling mudah adalah dengan melihat pada keberadaan sekolah-sekolah katolik (institusi). Di kota-kota besar, memang masih banyak sekolah katolik yang bertahan, bahkan masuk dalam golongan sekolah elite. Akan tetapi, keberadaan sekolah-sekolah elite ini kemudian melahirkan pertanyaan besar, khususnya terkait dengan misi kerasulan. Sekolah katolik tak jauh beda dengan sekolah-sekolah elite lain, yang mulai lebih memperhitungkan misi ekonomi daripada misi sosial. Akibatnya, cukup banyak anak-anak dari keluarga pas-pasan yang tidak bisa bersekolah di sekolah katolik yang katanya bagus itu. Di pedesaan, kondisi sekolah katolik (khususnya SD dan SMP) mulai terancam oleh keberadaan sekolah-sekolah negeri. Jadi, meskipun secara kualitas masih ada sekolah katolik yang bertahan, namun secara kuantitas lebih banyak sekolah katolik yang terancam gulung tikar.
Indikator kemorosotan pendidikan katolik tampaknya juga terlihat pada bidang pendidikan spritualitas (iman) katolik. Semakin banyak orangtua yang tidak bisa meluangkan waktunya untuk mendampingi anak-anaknya akibat terlalu sibuk bekerja, dan menganggap bahwa pendidikan adalah tugas sekolah semata. Fungsi keluarga sebagai sentra pendidikan pun mulai terkikis oleh keberadaan sekolah dan media massa. Dampak yang sangat dahsyat terjadi adalah pada lemahnya spiritualitas yang menjadi dasar anak-anak sekarang dalam berpikir, bersikap dan bertindak.
Memulai dari HirarkiDi Surabaya, kemerosotan kualitas orang katolik itu pun menjadi keprihatinan yang mendasar mengingat pada suatu titik kita dituntut untuk menjadi ‘garam dan terang dunia’. Pertanyaannya, bagaimana kondisi dunia ini bila garam yang menggarami dan dian yang menerangi tidak punya kualitas?
Kesan itu juga yang muncul pada dua kali diskusi yang digelar oleh Fusi Nusantoro, Pr dalam menjaring aspirasi pasca-SAGKI. Dari dua kali diskusi itu, penulis melihat penyebab mendasar dari kemunduran itu adalah pada lemahnya jaringan yang seharusnya bergerak. Salah satu kalimat yang sangat membekas di benak penulis, justru terlontar dari seorang ‘berjubah’. Dia berkata secara tegas, “PMKRI bukan urusan saya!” Penulis tersentak. Pasalnya kalimat itu terlontar dari mulut seorang Pastor Mahasiswa. Mungkin jika kalimat itu tidak dikeluarkan olehnya, maka bukan menjadi masalah yang berarti. Namun ini adalah masalah serius di Keuskupan Surabaya. Pertanyaan yang muncul di benak penulis, bukankah seharusnya Pastor Mahasiswa mendampingi mahasiswa? Ataukah PMKRI bukan organisasi yang terdiri dari sekelompok mahasiswa, toh kepanjangannya juga Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia? Perhatikan kata mahasiswa di situ.
Ini adalah sebuah bukti bahwa sebenarnya dalam diri hirarki sudah terbentuk suatu habitus buruk, yaitu membatasi diri dengan siapa kita seharusnya berinteraksi. Ini dapat berakibat fatal bagi kehidupan yang lebih luas. Pendapat lain yang membekas dalam benak penulis juga kebetulan terlontar dari seorang ‘berjubah’ yang lain. Intinya, perdebatan waktu itu sampai pada kelompok strategis mana yang harus didekati untuk tidak sekadar melakukan sosialisasi tapi juga praksis hasil-hasil SAGKI 2005. Kaum ‘berjubah’ satu ini berpendapat bahwa guru bukanlah kelompok strategis yang harus didekati. Alasannya, struktur masyarakat kita sekarang telah membuat guru menjadi kelompok yang tidak lagi strategis. Untuk itu, kelompok strategis yang perlu dimasuki adalah kelompok-kelompok kategorial yang diciptakan oleh hirarki.
Penulis melihat inilah cerminan bagaimana mindset hirarki tentang pentingnya fungsi dan peran pendidikan bagi pembentukan manusia. Dari situ kita melihat memang hirarki tidak pernah melihat (atau tidak mau melihat) guru sebagai entry point yang sebenarnya strategis untuk menanamkan pemahaman akan pentingnya ‘habitus baru’ sekaligus mempraktikkannya sedini mungkin dalam pembentukan sebuah keadaban publik sedini mungkin. Peralihan dari ‘habitus buruk’ menuju ‘habitus baik’ membutuhkan sebuah aksi yang berjalan tidak sebentar dan tidak mudah. Habitus adalah sebuah budaya, meskipun bukan hanya terbatas pada budaya saja. Karenanya, untuk mewujudkan ‘habitus baru’ dibutuhkan suatu gerak kebudayaan yang berkesinambungan. Kuncinya adalah pada pembenahan pendidikan, mulai dari materi pendidikan sampai pada metodologi pendidikan yang terjadi selama ini.
Kita harus ingat bahwa Cina bisa menjadi besar karena terjadi lebih dahulu sebuah revolusi sains. Hal yang sama terjadi di dunia Barat, revolusi ilmu pengetahuan di Barat sudah terjadi ketika Indonesia masih dijajah. Ilmu pengetahuan adalah langkah awal untuk menentukan arah gerak sebuah masyarakat, sekaligus menjadi senjata utama dalam suatu pertempuran di era globalisasi. Ingatlah kita sekarang berada dalam sebuah era dimana bukan tanah yang menjadi penentu kekuasaan (feodalisme), bukan uang yang menentukan kekuasaan (kapitalisme), melainkan dari pengetahuan yang dimilikinyalah status seseorang ditentukan.
Untuk itu, diperlukan sebuah langkah berani dari hirarki gereja katolik, khususnya di Keuskupan Surabaya. Caranya, tidak bisa tidak, selain memulai dari pembenahan pendidikan dasar-menengah. Bukan dengan berwacana, melainkan dengan bertindak!
Beranikah keuskupan menyisihkan 20 persen dari kas yang terkumpul dari kolekte setiap minggu di setiap paroki dan sumbangan para donatur untuk membenahi sekolah-sekolah katolik? Siapa tahu habitus baik ini bisa ditiru oleh instansi pemerintah?
About this entry
You’re currently reading “Memulai Habitus Baik dari Hirarki,” an entry on ORANG MUDA
- Published:
- January 22, 2007 / 2:07 am
- Category:
- NINO
- Tags:
7 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]