KANG JE & PILIHAN HIDUP TEMANKU
Siapa yang menyangka kalau hari ini aku bisa bertemu dengan seorang teman lama yang semasa kuliah dulu seringkali menjadi teman bermain dan diskusi. Dia yang begitu bersemangat menyusuri hidup, ternyata tidak jauh beda dari sekarang juga. Aku terperangah begitu mendengar semua jalan hidup sejak kami berpisah setelah lulus kuliah. Jarak dan waktu yang lebih dari jumlah jari tangan, membuat pertemuan kami ini sungguh menjadi pertemuan yang menyenangkan.
“Aku berusaha mengikuti apa pun yang dimaui oleh Kang Je padaku,” ujarnya sembari meminum capucinonya. Temanku ini memang senang sekali minum minuman satu itu. Salah satu yang tidak berubah darinya.
“Misalnya?” aku bertanya penasaran.
“Ya, misalnya ketika aku pindah kerja dari tempatnya yang nyaman itu menjadi tukang masak seperti sekarang.”
Aku manggut-manggut.
Sebagai seorang sarjana Sastra Perancis, kelihaiannya itu dilirik sebuah lembaga internasional. Selain menjadi pengajar yang diperhitungkan, beberapa kali ia bisa pergi ke negeri orang, ia juga sedang dipromosikan untuk menjadi Sekertaris lembaga tersebut, menggantikan seniornya. Pokoknya karirnya terang benderang sekali. Teman-temannya sangat bangga dengan hasil kerja kerasanya itu selama ini.
Hingga ketika seorang kakak tercintanya sakit tiba-tiba lalu meninggal dunia, semua jerih payahnya itu seperti menguap, lenyap. Itu bukan karena kesalahan atau perbuatan orang lain, tetapi karena pilihannya sendiri. Ia memang memilih untuk meneruskan usaha yang dirintis kakaknya itu di kampung halaman.
“Kamu kan tahu, usaha katering Kak Eka itu sudah terkenal kemana-mana. Sayang sekali kalau harus hilang berbarengan dengan meninggalnya kakakku satu itu,” lanjut cerita temanku.“Kan masih ada Mamamu, kakak ketigamu atau adikmu,” bantahku.
Kepala temanku menggeleng-geleng pelan, “Mamaku sudah terlalu tua kalau harus mengurus bisnis seperti itu. Kakak dan adikku kan sudah punya keluarga dan kerjaan sendiri.”
Aku melipat tanganku sendiri. “Lalu, kenapa kamu berani menjadikan dirimu sebagai pengganti Kak Eka? Bukankah kamu juga mempunyai karir yang terang benderang?”Sebentar sahabatku itu memandang bagian luar coffe yang menjual minuman capucino yang menurutnya enak. Di sini juga pernah menjadi tempat nostalgia kami dan teman-teman lain.
“Pada awalnya aku juga nggak terlalu yakin kok. Kamu kan tahu kalau aku rada nggak rela meninggalkan karirku selama ini. Tapi, ketika aku yakinkan diri untuk memutuskan kembali ke kampung halaman lalu menjalani hari-hariku dengan menjadi tukang masak seperti Bang Frans, aku justru menemukan hidupku memang di sana.”
Kukernyitkan keningku. Menandakan kebingungan atas ucapan temanku barusan.
“Bukan saja aku jadi bisa lihai masak, tetapi juga aku bisa menjadi penawar sedih buat Mama dan saudaraku yang lain yang masih kehilangan Kak Eka. Apalagi beberapa tahun sebelumnya Papa, Kak Budi dan adik Mamaku meninggal lebih dahulu. Bisa bayangkan kan kesedihan keluargaku?”
Aku mengangguk-angguk lagi.
Sekelebat aku melihat ada seseorang melambai-lambaikan tangannya ke arah kami. Kebetulan kami duduk di bagian luar café sehingga bisa melihat dengan mudah, semua orang yang hilir mudik di sekitar café ini.
Sontak aku menyambut lambaian tangan itu.
Ternyata, temanku itu pun melambaikan tangannya juga pada orang yang sama. Ah, dia juga mengenal orang yang sedang menuju ke arah kami.
“Apa kabar, anak-anakKu?” laki-laki gagah itu menyalami kami. Kali ini tubuhnya terbalur jins belel dengan kaos putih bersih serta.. wangi…
“Baik. Baik,” jawabku semangat. Laki-laki itu segera duduk di dekat kami.
“Smsku semalam sampai ya?” tanya temanku dengan wajah ceria.
Aku memandang temanku dengan pandangan aneh. Rupanya mereka janjian malam tadi tho…“Sampai dong. Kalau tidak, Aku tidak akan kemari sekarang,” jawab Kang Je sembari memesan secangkir black coffe. “Senang ya kalian bisa bertemu seperti sekarang setelah sekian lama berjauhan.”
“Seneng banget dong, Kang… Apalagi sekarang dia sudah sukses. Jauh lebih sukses dari sebelumnya,” sambarku bangga sambil menunjuk ke temanku.
“Ah, aku begini kan juga karena mencoba mengerti apa yang diingikan si Akang satu ini,” temanku berusaha merendah. Dia menyeruput minumannya dulu.
Pelayan yang membawa minuman pesanan Kang Je datang. Ucapan terima kasih mengiring pelayan itu meletakkan gelas minuman itu di hadapan Kang Je.
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi (Mat. 6:19-24),”ujar Kang Je mengingatkan. “Temanmu ini adalah pengikutKu yang setia. Meski masa lalunya sebenernya menyenangkan dan menjanjikan, ia lebih memilih untuk kembali ke kampung halamannya, menggarap ladangKu yang sempat gersang dan menemani orang tua yang membutuhkannya.”
Temanku merasa tersanjung. Ia sempat salah tingkah.
“Aku berkata kepadamu; Jangnlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai (Luk. 12:22).” Kang Je menyeruput kopinya. Nikmat sekali kelihatannya. Padahal bungkus gula masih rapi tergeletak di meja, di atas tisyu. Kang Je ternyata penggemar kopi pahit.
“Kalau kuatir, aku masih tetap merasa seringkali menguasai hidupku, Kang. Itu hal yang tidak dapat kuhindari. Meski sebenarnya aku berusaha untuk peka akan apa yang Kau inginkan.” Temanku kembali bercerita tentang hidupnya. “Bayangkan saja, dalam waktu berdekatan, aku kehilangan banyak saudaraku. Belum lagi seseorang yang kukasihi, akhirnya memutuskan meninggalkanku karena kawatir tidak kuat berhubungan jarak jauh denganku.”
“AnakKu…,” Kang Je mendekati duduknya. Ia menepuk penuh kasih sayang, temanku yang sekaligus anakNya juga, “Aku tak hendak ingin menyebut bahwa itu adalah harga yang harus kau bayar atas keputusanmu. Tetapi, itu adalah salah satu warna yang Kusiapkan untuk sebuah arti hidup yang akan kamu lalui di tahap berikutnya. Percayalah, ketika angin menerpa tubuhmu maka panas yang semula menyengat dan membuatmu resah, akan hilang seketika. Engkau adalah anakKu terkasih yang telah menyediakan hidupmu bagiKu. Jangan takut dengan keputusan yang kau pilih untuk hidupmu sendiri. Berkah melimpah akan tersedia turun atasmu.”
Kepala temanku menengadah. Ada senyum tipis berkembang di bibirnya.
Jauh di lubuk hatinya, aku tahu ia sangat percaya bahwa ia adalah manusia pilihan dan kekuatan akan turun ke atasnya.
“Terima kasih, Kang… Diantara rasa syukur atas hidupku yang Kau berikan padaku, seringkali kesedihan dan kekecewaan menyertai langkahku.”
“Aku tahu anakKu. Maka tetaplah jalan dalam jalanKu. Aku akan menyertaimu…”
Kali ini kepala temanku yang berwajah lebih cerah setelah disentuh lembut oleh Kang Je, mengangguk-angguk mantap. Ia percaya, ia tak kan ditinggalkan.
“Hei, kamu sampai kapan di sini?” tanya Kang Je tiba-tiba.
“Itulah Kang… Mestinya aku harus pulang sore ini. Padahal sebenarnya aku masih ingin di sini bersama banyak teman lamaku.” Temanku jadi berubah bersedih. Sebaliknya, Kang Je tersenyum tipis. Aku hanya memperhatikan mereka saja. “Tapi, aku nggak mau ngasih target lebih ah, ngikutin saja apa yang Kang Je inginkan. Kalau aku harus pulang sore ini, ya pulang. Kalau nggak, pasti ada sesuatu yang membuatku harus bertahan di sini.”
Tak lama ada bunyi hp terdengar. Rupanya itu suara hp temanku. Sebentar temanku mengangkat teleponnya lalu berbincang-bincang sejenak dengan yang menelponnya. Tak lama wajah suram itu kembali cerah.
“Ternyata orang-orang di Parokiku minta dibawakan beberapa barang rohani. Maklum, di sana kan jarang sekali ada yang berjualan barang-barang seperti itu,” ujarnya ceria.
“Lalu? Kamu mau beli? Kan toko rohani di gereja hari ini tutup.” Aku jadi bingung dengan semangat temanku itu.
“Makanya… Karena alasan itu, berarti aku tidak bisa pulang malam ini. Paling nggak menyelesaikan tugas dadakan ini dulu,” jelas temanku itu senang. Dia memang ingin bisa lebih lama di kota ini.“Kalau gitu, gimana kalau kita berkunjung sejenak ke tempat IbuKu di Karmel? Bukankah tempat itu juga tempat yang ingin kau kunjungi, tapi belum sempat?”
“O iya, iya… Bener, Kang. Aku mau ke sana.”
“Baik kalau begitu. Sebelum sore datang, mari kita berangkat sekarang.” Kali ini Kang Je yang bersemangat sekali.
“Lho, Kang Je mau ikut?” aku menunjuk Kang Je tak percaya.
“Iya dong… Kan mumpung ada teman lamamu yang sedang bernostalgia.” Kang Je menjawab dengan enteng banget.
“Naek angkot lho, Kang…,” godaku.
“Lho…, so what gitu lho? Kan enak bisa bertemu banyak orang di angkutan itu,” canda Kang Je. Ia mengedipkan mata genit lalu melenggang, melangkah ke depan bersama temanku sambil bercerita dan bernostalgia.
Kang Je, Kang Je… Memang Dia selalu ada untuk semua orang, di mana saja, kapan saja.Nggak perlu susah-susah mencariNya.Love u, Kang…(to bamby, 20-25 Jan 07, good luck friend…)
About this entry
You’re currently reading “KANG JE & PILIHAN HIDUP TEMANKU,” an entry on ORANG MUDA
- Published:
- January 25, 2007 / 7:36 am
- Category:
- ANJAR
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]