Membangun Lini Tengah

(respon atas tulisan Bp. J. Sudjati Djiwandono, Memasuki Tahun Orang Muda, HIDUP, 23 dan 30 Januari 2005)  Tahun 2005 telah dicanangkan sebagai Tahun Orang Muda oleh KWI. Persoalan pertama yang dihadapi tentu saja, bagaimana ia dikongkretkan di tataran basis gereja kita. Dan sejauh pembacaan penulis atas dinamika gereja baik lokal maupun nasional, agalnya seruan Tahun Orang Muda ini pun akan bernasib sama seperti berbagai pesan gereja yang lain, dengan respon yang tipikal : dirayakan sebagai misa, diseminarkan, didoakan, namun kehilangan daya dorong ketika tiba di dataran parsis sosial. Tulisan ini sendiri bermaksud memberi kontribusi kecil pada penggarapan programatik dari ajakan pada orang-orang muda tersebut tersebut. 

Belajar dari pengalaman kampanye komunitas basis

Seruan untuk kembali pada komunitas basis sungguh menjadi pengalaman yang berharga bagi kita semua. Bukan pada gagasan komunitas basis itu sendiri yang memang sebuah keniscayaan di jaman ini, namun pada kelemahan teknis yang mendasar namun sangat fatal. Sebuah seruan pastoral hanya akan mendarat di dataran paling praksis dari masyarakat kalau ia disertai instrumentasi yang tempat. Memang benar bahwa pesan komunitas basis telah menggetarkan gereja begitu rupa, mungkin karena kuatnya karakter hirarkhis dari gereja kita, namun sayangnya, gereja tidak terlebih dahulu mempersiapkan pekerja-pekerja akar rumputnya untuk terus memelihara kerja-kerja Roh di tataran basis. Demikian pula pengalaman kita dengan perayaan Yubileum Agung 2000, ataupun Tahun Kaum Muda Keuskupan Agung Semarang beberapa tahun lalu. Kedua event besar tersebut lebih nampak ketergesa-gesaan gereja yang gagap menyikapi jaman. Dan karena ia sebuah respon reaksioner dari situasi keprihatinan kongkrit di lapangan, ia tak memiliki karakter kedalaman dan kematangan programatik yang niscaya dibutuhkan untuk mentransformasikan semua keprihatinan menjadi gerakan sosial di tengah-tengah gereja. Kalau mau jujur, saat ini gereja hanya memiliki satu gerakan yang sungguh-sungguh membasis, dan itu bernama Karismatik. Gereja harus sadar, dibutuhkan lebih dari sekedar seruan untuk sebuah gerakan sosial. Bukan hanya visi, misi, instrumen konseptual, namun sebuah masyarakat epistemik yang siap merespon dalam kerja kongkrit di lapangan dan umpan balik. Inilah yang hilang satu generasi terakhir ini.Angkatan kader militan sudah habis, kaderisasi pekerja awam yang sesungguhnya pun telah lebih dari satu generasi terhenti. Dan sungguh memang sudah bukan saatnya lagi kita bekerja dengan model-model usang. Kalau dulu pada mereka bisa dipercayakan ‘daya getar’ gerakan sosial gereja, jaman ini, dengan konteks kultural dan struktural yang kita hadapi, kita membutuhkan model lain bagi untuk menghidupi seruan-seruan Roh. 

Lini Tengah sebagai Garda Depan

Inilah saatnya gereja memusatkan diri membangun lini tengah dalam dirinya sebagai titik paling lemah dalam gereja Indonesia, sementara gereja institusi relatif terkonsolidasi dan gereja sebagai payung jemaat yang sangat heterogen relatif terjaga dalam tradisi gereja lokal masing-masing. Lini tengah di sini diartikan, masyarakat dan institusi kritis yang bukan hanya mampu menerjemahkan pesan-pesan moral maupun kultural dari gereja, namun mampu menjalankan fungsi-fungsi leadership lokal, memfasilitasi dan mendorong pembacaan analitis yang lebih besar (sebagai titik pijak instrumental bagi aksi visioner apapun dalam masyarakat), membangun gereja setempat sebagai kekuatan epistemik dan kultural bagi lokalnya. Artinya, ia berfungsi menjadi intelektual organik bagi gereja lokal dan masyarakat lokal yang lebih luas.

Ini memunculkan beberapa prasyarat : dua prasyarat dalam transformasi perspektif. Pertama, gereja harus membangun civil society internal dalam tubuh gereja sendiri. Bukan dalam kepentingan menggantikan peran hirakhis, namun menjadi tulang punggung bagi gereja dalam artian kekuatan dan bangunan kultural. Sekali lagi kita berbicara tentang keniscayaan gereja awam. Kedua, gereja harus menyadari dirinya sebagai sebuah kekuatan sosiokultural bagi bangsanya, dan disinilah peran transformatif gereja bagi dunia diletakkan.artinya, di sini kita memasuki kebutuhan membangun politik kebudayaan.

Prasyarat yang lain lebih bersifat teknis ; pertama, kebutuhan pengembangan rencana strategis untuk merespon tantangan gereja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, yang dilakukan secara lebih demokratis dan melibatkan partisipasi awam seluas-luasnya di semua lini. Pelibatan semua lini diarahkan pada upaya memberi kontribusi berfungsinya tenaga-tenaga basis dan kader-kader gereja yang selama cenderung berdiri “di luar pagar” gereja sosiologis, yang notabene sangat membutuhkan  kemampuan mereka dalam pengorganisasian dan pencerahan kritis sebagai titik tolak visis gereja kultural. Dan bagi visi gereja kultuiral ini, kedua, gereja harus mampu melakukan pembelajaran-pembelajaran besar bagi dirirnya sendiri. Penulis memetakan ini sebagai pembelajaran kultur dan struktur : pembelajaran kultur baik itu pembelajaran Roh dan tradisi gereja universal/lokal masing-masing, maupun pembelajaran hidup berkomunitas, berkebudayaan yang manusiawi, yang semakin tergerus oleh ekpansi nalar dan institusi kapitalistik. Kedua, pembelajaran struktural dalam dua artian : pertama, penyadaran kritis dalam gereja atas eksistensi ekonomi-sosial-politik dari hidup modern, yang mulai dirintis gereja dalam Nota Pastoral KWI 2004 yang lalu, dan membutuhkan kerja pembasisan yang sangat berat : di situlah arti pembelajaran gereja yang sesungguhnya,  yakni seluruh tubuh sosiologis gereja itu sendiri. Kedua, dalam keterceraiberaian hidup bersama, baik gereja maupun masyarakat modern, dibutuhkan pembelajaran kembali kapasitas hidup dan bertindak praksis tanpa menjadi pragmatis : yakni pencarian dan penegasan kembali state of the art (SOTA, cara-cara praktis) hidup berkomunitas, hidup berinstitusi modern,dan hidup dalam nalar modern. Secara khusus di sini dalam terang pelumpuhan nalar kritis yang dilakukan sistemik oleh Negara Orde Baru selama lebih dari satu generasi, dibutuhkan kapasitas membaca, kemampuan membangun analisa sosial terhadap diri dan masyarakatnya, sebagai titik tolak bagi budaya transformatif bagi diri dan bangsanya, di samping dalam artian kuratif, sebagai instrumen katarsis bagi jebakan pelumpuhan psikologis dari rejim-rejim modal dan rasionalitas.

Lini tengah bukan semata-mata sebuah masyarakat intelektual organis, namun pondasi utama bagi gereja yang organis dengan iman yang sungguh-sungguh organis pula. 

Bagi orang muda

Apa artinya iniI semua bagi pengembangan kerangka pendampingan kaum muda ke depan ?Karena orang-orang muda kita jaman ini jauh lebih mengidealkan diri sebagai subyek mandiri, sementara tantangan-tantangan empiris membutuhkan respon yang lebih cepat daripada proses-proses organisasional yang padat prosedur, model kelembagaan yang kita butuhkan mutlak didasarkan pada dua hal ini. Dan sungguh, yang kita butuhkan adalah institusi-institusi jembatan, lembaga-lembaga pendampingan yang membantu orang yang sudah terlanjur hidup dan bernafas dalam nalar pragmatis-fatalisti untuk menemukan kembali karakter, kodrat, dan martabat kemanusiaannya yang utuh, kedalaman spiritual, kekuatan aksi-refleksi jangka panjang, serta kemampuan hidup sosial yang selama ini dirampas daripadanya.

Sebuah bangunan yang tidak berkarakter organisasional, namun lembaga-lembaga yang menjadi titik silang proses-proses akar rumput, titik silang kultural bagi pembelajaran rohani dan kepribadian di satu sisi, dan tentu saja wawasan sosial-politik-kultural aktual sekaligus capacity dan community building bagi para pekerja basis, syukur-syukur kalau ia bisa menjadi selling point bagi gereja massa. Youth Center Karya Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang yang dirintis beberapa tahun terakhir bisa menjadi model, meski titik lemah masih dijumpai pada penggarapan wilayah-wilayah non dan postkelas, kapasitas analitis pekerja, isu-isu jangka panjang, pengadaan eksemplar yang akan memfasilitasi pendampingan jarak jauh, respon atas isu-isu sosial politik (sungguh sangat mengherankan mengingat kedekatan YC dengan Yogyakarta), serta pembentukan komunitas pendukung (termasuk pula jejaring pendamping komunitas) yang akan memberinya akar dan kaki yang kokoh di tengah gereja muda. Yang terakhir ini juga akan sangat membantu mengisi kekurangan besar pada populasi pekerja di lembaga tersebut. Pada titik ideal kalau kita berandai-andai, seorang pendamping gereja muda hanya akan bekerja di wilayah-wilayah visioner dan blank spot dari kerja-kerja gereja muda, sementara, dengan sebuah etos dan kapasitas praksis yang telah terlatih dan mentradisi, pekerja-pekerja gereja muda akan secara organis memelihara dan mendorong transformasi komunitasnya. Ini tentu sebuah impian jangka panjang.  Dalam konteks gereja muda yang kita miliki saat ini, dalam hitungan jangka pendek Tahun Kaum Muda, mungkin manual jauh lebih dibutuhkan, untuk menjadi alat yang paling kongkrit bagi kerja akar rumput. Banyak orang mungkin akan menolak hal ini, namun kondisi lapangan dari gereja muda dimana proses pendampingan dan mentoring telah lama terhenti dan tersendat oleh begitu banyak birokrasi, ia menjadi shortcut yang berguna bagi gereja sebagai gerakan sosial. Setidak-tidaknya ia memberi kita dan pekerja-pekerja akar rumput sebuah lukisan tentang SOTA (state of the art) gereja muda, yang nota bene sebagai kearifan praksis memang telah lama lenyap dari hidup keseharian menggereja kita seiring surutnya apresiasi dan bahkan eksistensi dimensi tradisi-tradisi lokal dalam keragaman proses komunitas gereja yang paling basis. 2005 : Spirit atau Kultur?Sejauhmana 2005 mengarahkan kita untuk menggarap hal-hal ini ? Ini tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan Tahun Kaum Muda. Sejauh ini Komunitas Basis, seruan tahunan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, dan aneka ajakan pastoral lain masih sangat kental sebagai sebuah kerja meniupkan Roh. Semoga konseptor-konseptor kita yang bekerja keras untuk mempersiapkan ini semua tidak setengah-setengah dalam menentukan sikap.Dan sikap ini, bagi saya yang melulu bergerak di kampung-kampung kecil pinggiran kota, adalah tuntutan sederhana namun tegas untuk kembali pada kebudayaan. Gereja muda sebagai kultur orang-orang muda, dan kemudaan sebagai kultur menggereja itu sendiri.Yogyakarta, 2004-2005 


About this entry