Pendidikan politik itu soal peningkatan kapasitas kita bertindak

Pengalaman hidup di tataran basis kemasyarakatan mengajari kita, niat baik tidak cukup untuk bertahan hidup. Niat baik hanya hidup ketika ia disertai kapasitas diri yang mencukupi untuk ambil bagian dan tanggung jawab dalam realitas sosial an tantangan jaman.

Ada banyak cara orang menghidupi hari-harinya. Lewat profesi, lewat komunitas, lewat studi, dan lain-lain. Bagi kita orang muda, lewat sekolah, kuliah, dan kerja, lewat kelompok pergaulan, dan aneka komunitas hidup bersama. Di tengah keragaman jalan melakoni hidup itu, ada satu yang tak bisa dipungkiri, bahwa tekanan sosial itu terus makin meninggi, bahwa semakin banyak hal-hal yang diluar jangkauan pencapaian kapasitas kita sebagai individu. Televisi, urusan politik nasional, perang, terorisme, adalah makanan kita sehari-hari, yang sangat dalam merasuk kesadaran kita, yang sangat kita tahu mempengaruhi hajat hidup kita saban hari, namun yang sekaligus kita rasakan pula, betapa itu semua di luar jangkauan kemampuan kita sebagai manusia biasa, sebagai orang-orang muda kampung, sebagai mahasiswa, ataupun pelajar sekolah menengah. “Aku prihatin dengan pengaruh perkembangan isi televisi bagi moralitas bangsa ini, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa.” Kata seorang sobat mudika yang kebetulan kuliah di Jurusan Komunikasi. Di lain kesempatan, seorang kawan mudika yang lain berkata, “aku nggak tahu kemana lagi harus mencari kerja, nggak ada lowongan untuk jebolan SMA.” Atau dengar pula tuturan sobat pelajar kita “Aku sekolah di sekolah negeri, aku nggak tahu kenapa ada perasaan dipinggirkan sebagai seorang Katolik di sekolahku.

Entah ada berapa banyak keluhan yang bermunculan di tengah perbincangan keseharian kita. Yang jelas, pertama-tama ada perasaan negatif, ketertindasan, kelumpuhan, dan sejenisnya. Kedua, bahwa ada sesuatu yang di luar sana yang terus-menerus memunculkan kondisi-kondisi negatif itu. Hanya saja siapa dan bagaimana, ‘yang di luar sana’ tetaplah sesuatu yang tak berbentuk dan tak bernama.

Mengartikan ‘Politik’

Banyak orang menganggap pendidikan politik sebagai sesuatu yang menyeramkan. Itulah bagaimana kita dilatih selama lebih dari tiga puluh tahun di sekolahan dan masyarakat. Perkaranya sederhana, melek politik itu membuat seseorang bisa bersuara. Dan penguasa negeri ini tahu, ribuan dan jutaan suara akan sangat menyeramkan baginya, maka sebelum bayi-bayi bisa membuka mata, sebelum anak-anak bisa berkata-kata, penguasa itu sudah pasang kuda-kuda dengan terlebih dahulu memasang wajah seram. Trik dan strateginya ada banyak cara, salah satunya ya itu tadi, dengan menyebarluaskan kisah-kisah seram tentang politik, dan segala hal lain yang bisa dikait-kaitkan dengan tetek bengek negara.

Maka marilah kita balik logika ini, betapa seramnya hidup tanpa politik bagi kita, karena dengan begitu para penguasa bisa dengan sewenang-wenang mempergunakan kekuasaan mereka.

Pendidikan politik itu sendiri sesungguhnya adalah perkara yang sangat sederhana. Pendidikan politik adalah proses memberi nama.

Pertama-tama, kita bisa merumuskan keadaan kita, kita bisa menamai rasa lelah menonton televisi yang selama ini tak bisa kita pahami ternyata akibat serbuan terus-menerus dari aneka pesan tanpa aturan, tanpa kita sendiri diberi kesempatan bersuara. Kata Romo Mudji Sutrisno dalam sebuah wawancara di televisi beberapa tahun lalu, terlalu banyak impresi daripada ekspresi, terlalu banyak hal-hal masuk daripada yang kita keluarkan dari dalam diri. Air dalam gelas pun akan tumpah bila dituang air tanpa henti, apa lagi manusia yang punya jiwa dan rasa.

Kedua, kita bisa merumuskan keberadaan kita. Pendidikan politik membuat kita sadar bahwa ada sesuatu di balik keadaan kita yang memungkinkan itu semua terjadi. Ada alasan dan tatanan dibalik serbuan televisi pada kesadaran kita sehari-hari. Ada alasan mengapa mereka menyodori kita dengan kelap-kelip AFI, horor, kriminalitas, seks. Perkaranya sederhana, mekanisme rating tontonan menentukan ke televisi mana aliran uang para pemasang iklan akan dialirkan. Semakin populer, semakin banyak ia ditonton, semakin tinggi harga jualnya.

Artinya di hadapan televisi dan media massa yang terkapitalisasi, kita tak lebih dari sekedar komoditas yang dijual para pemilik media pada pemasang slot iklan sepanjang jam tayang mereka. Ini berarti ganda, pertama kita dibendakan, kita hanyalah angka prosentase yang bisa dijual; kedua, media massa yang melulu berpikir keuntungan bisnis sama sekali tak pernah peduli soal dampak sosial. Tak peduli apa pengaruhnya pada karakter dan moral masyarakat, tak peduli pada berapa banyak anak-anak di bawah umur menjadi korban kebudayaan, tentu juga, tak peduli pada kegundahan seorang sobat mudika yang kuliah di jurusan Komunikasi tadi.

Inilah kesadaran struktural, ada sesuatu, struktur besar yang bekerja secara sistematis yang menentukan hajat hidup kamu, teman kamu, dan semua tetangga-tetangga kita yang bebas dari kontrol sosial, dari kendali kita. Syukur-syukur di wilayah kelembagaan negara, hadirnya partai-partai, pemilu, dan parlemen, sedikit bisa mengatasi. Tapi bagaimana dengan badan swasta, perusahaan raksasa nasional dan global yang banyak di antara mereka memiliki kapasitas keuangan dan manajemen melebihi sebuah negara, siapa akan mengendalikan mereka?

Ketiga, pendidikan politik menuturkan pada kita, bahwa ada cara lain menghidupi kemanusiaan kita, bukan sekedar saling berebut menumpuk uang dengan segala cara, termasuk menjual moralitas bangsa dan wulu wetu ibu bumi tumpah darahnya, inilah yang membuat kita masih bisa terus berharap dan bersyukur, masih ada sesuatu di depan sana yang bisa kita gadhang-gadhang, kita harap-harapkan, dan sekaligus kita perjuangkan. Tentu ini bukan sebuah mimpi utopis semata, tentu ini haru berangkat dari analisa dan kajian sosial yang mendalam yang berpijak pada kearifan tradisi dan kehidupan. Bukan hanya ini, ‘cara lain’ ini juga berbicara tentang kebutuhan akan kerjasama, organisasi, program, dan langkah-langkah terpadu dari kerja kemanusiaan. Demikianlah pendidikan politik membuat kita sadar bahwa kita masih punya harapan.

Keempat, bahwa kita punya teman. Bahwa kita tak sendiri, bahwa kita bisa dan harus menjalin persahabatan-persaudaraan dengan semua orang yang juga memiliki kehendak baik yang bernyala dalam jiwa kemanusiaannya. Sebagai perintis-pembuka jalan, lewat pembacaan sejarah kita tahu kehadiran orang-orang yang telah melangkah didepan kita, sebagai pandu-pandu perjuangan kemanusiaan. Sebuah pengalaman sharing bersama para senior kita. Di ujung yang lain, kita juga sadar, bahwa dengan bertindak kita telah meninggalkan jejak pada para adik-adik kita, untuk memberi mereka sebuah model, sebuah contoh kecil, untuk mewariskan pada mereka pengalaman dan pengetahuan yang telah kita himpun sepanjang gerak hidup kita mengemban tanggung jawab atas jaman ini. Inilah solidaritas eskatologis, solidaritas pada masa lalu dan masa depan. Dan bukan hanya ini, solidaritas eskatologis juga merujuk pada kesadaran bahwa ada jalan-jalan lain yang ditempuh oleh para tualang lain, dalam aneka cara, dalam aneka semangat yang dihidupi, sebagai agama-agama, sebagai ajaran-ajaran, teks, narasi, atau komunitas. Di sinilah solidaritas eskatologis itu menjelma menjadi sebuah perjalanan bersama, sebuah solidaritas kebudayaan, solidaritas akan ‘yang lain’.

Kelima, bahwa kita punya harta warisan kebudayaan yakni himpunan pengetahuan dan kapasitas yang disatukan abad demi abad kerja kemanusiaan. Bahwa atasnya kita punya tanggung jawab tidak hanya ke masa lalu, para perintis, namun juga masa depan, para penerus kehidupan. Dan bahwa kita tak memulai dari titik nol. Bahwa ada wawasan, pengetahuan, strategi, makna, hingga institusi dan jaringan, yang kita terima sebagai warisan teladan dan model. Kita pun tak boleh lupa, betapa Gereja, sebagai komunitas, institusi, dogma, ajaran, hingga lembaga-lembaganya yang paling canggih ataupun paling lokal di kampung-kampung dan karang padesan, adalah bagian dari warisan perjuangan manusia Yesus dua ribu tahun yang silam untuk membela martabat kehidupan pada jamannya. Kita bersyukur betapa warisan itu telah berlipat ganda dari abad ke abad sejarah kita. Juga karenanya lantas, bahwa kita hanyalah satu bagian kecil dari kerja besar ini, yakni pemenuhan karya penciptaan, pemulihan kembali martabat manusia dan kehidupan, setelah Adam dan Hawa terusir dari surga keilahian.  Politik sebagai tanggung jawab kehidupan

Di dunia dimana struktur-struktur besar mengakumulasikan keuntungannya dengan terus menerus menjauhkan kendali manusia lokal dari hidup kesehariannya.,(lewat televisi yang mengasingkan kita dari tetangga, hingga melariskan bisnis konsultasi psikologis karena kita telah kehilangan konselor/pendamping kita yang alami, para orang tua, teman, dan tetangga kita), tetap ada wilayah-wilayah dimana kita bisa dengan penuh kepastian menentukan dan menegaskan sesuatu. Lokalitas, eksistensi hidup kita sehari-hari, karena disitulah –sekecil apapun- wilayah otoritas pemahaman dan kesadaran kita sebagai manusia. Dan tepat dari situlah pendidikan politik dan transformasi sosial itu dimulai. Bahwa kita sungguh hadir kembali dalam realitas dan tantangan hidup keseharian, bahwa kita ambil bagian di dalamnya. Bahwa waktu kita tak lagi disandera jam-jam tayang televisi, bahwa kita bisa berbincang kembali dengan semua orang sebagai manusia dan pribadi.

Tentu, pendidikan politik bukanlah mekanisme instant yang membuat kita lalu serba bisa, tapi yang jelas, ia memampukan kita membangun peta, membuka pintu kesadaran akan realitas sosial yang makin terstruktur oleh kekuasaan makro ini, dan turut terlibat merancang agenda perubahan sosial, di berbagai tingkatan, terlebih dan secara khusus, bagi kita di level basis kemasyarakatan sehari-hari, turut terlibat dalam memperkuat hidup bersama di tengah  tantangan jaman lewat berbagai kerja bersama pemberdayaan dan pembelaan hak-hak dasar kita sebagai manusia dan warga negara.

Di tengah realitas yang semakin terpolitisasi, di tengah kebudayaan dimana kekuasaan dan dominasi makin cerdik menyembunyikan diri ini –sebagai rayuan-rayuan iklan, model-model cantik, bahkan pesan-pesan berbau religius, kebangsaan, dan moral- semoga kita makin sadar, berpolitik adalah cara kita bertanggung jawab atas kehidupan.


About this entry