<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ORANG MUDA</title>
	<atom:link href="http://orangmuda.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://orangmuda.wordpress.com</link>
	<description>Blog untuk berbagi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jun 2011 08:16:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='orangmuda.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/1af93c63fabb415edea85918531d66d2?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ORANG MUDA</title>
		<link>http://orangmuda.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://orangmuda.wordpress.com/osd.xml" title="ORANG MUDA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://orangmuda.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dicari, 10 Paper Terbaik!</title>
		<link>http://orangmuda.wordpress.com/2011/04/12/17/</link>
		<comments>http://orangmuda.wordpress.com/2011/04/12/17/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Apr 2011 07:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>krismantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[peluang]]></category>
		<category><![CDATA[penulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangmuda.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka memfasilitasi pembelajaran, pertukaran pengetahuan dan mendorong inovasi kebijakan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) serta pencapaiannya pada 2015, Prakarsa (www.theprakarsa.org) menyelenggarakan Lomba Karya Ilmiah dengan tema “Pembiayaan MDGs Indonesia : Bagaimana Mencapai Target 2015?” Sumbangsih pemikiran dari segenap elemen masyarakat Indonesia diharapkan menjadi rekomendasi inovasi kebijakan pencapaian MDGs dengan waktu tersisa 4 tahun lagi.10 paper [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=17&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Dalam  rangka memfasilitasi pembelajaran, pertukaran pengetahuan dan mendorong  inovasi kebijakan Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) serta pencapaiannya  pada 2015, Prakarsa (<a rel="nofollow" href="http://www.theprakarsa.org/" target="_blank">www.theprakarsa.org</a>)  menyelenggarakan Lomba Karya Ilmiah dengan tema “Pembiayaan MDGs  Indonesia : Bagaimana Mencapai Target 2015?” Sumbangsih pemikiran dari  segenap elemen masyarakat Indonesia diharapkan menjadi rekomendasi  inovasi kebijakan pencapaian MDGs dengan waktu tersisa 4 tahun lagi.10  paper terbaik berhak mendapat imbalan yang pantas dan diundang untuk  mempresentasikan karyanya dalam Konferensi Internasional Prakarsa II  yang akan diselenggarakan pada 15-16 Juni, 2011, di Jakarta. Panitia  akan menanggung biaya transportasi dan akomodasi selama konferensi.</p>
<p>Uraian lengkap mengenai ketentuan lomba dan petunjuk penulisan dapat diakses pada website<a rel="nofollow" href="http://www.theprakarsa.org/conference2011" target="_blank">www.theprakarsa.org/conference2011</a> Naskah diterima panitia selambat-lambatnya 16 Mei 2011.</p>
<p>Bagi  yang berminat, dapat mengirimkan karya tulisnya kepada Panitia  Konferensi Internasional Prakarsa 2011, Jln. Rawa Bambu I Blok A No. 8-E  RT 010 RW 06, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12520. Untuk informasi  lebih lanjut bisa menghubungi Telp. (021) 7811798, email:  conference2011@theprakarsa.org<br />
<a rel="nofollow" href="http://www.theprakarsa.org/" target="_blank">http://www.theprakarsa.org/</a><br />
<a rel="nofollow" href="http://www.theprakarsa.org/" target="_blank">www.theprakarsa.org</a></p>
</div>
<div><strong><a rel="nofollow" href="http://www.theprakarsa.org/" target="_blank">http://www.theprakarsa.org/</a></strong></div>
<p><a rel="nofollow" href="http://www.theprakarsa.org/" target="_blank">www.theprakarsa.org</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/orangmuda.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/orangmuda.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/orangmuda.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/orangmuda.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/orangmuda.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/orangmuda.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/orangmuda.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/orangmuda.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/orangmuda.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/orangmuda.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/orangmuda.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/orangmuda.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/orangmuda.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/orangmuda.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=17&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangmuda.wordpress.com/2011/04/12/17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eafa5e503e96894a86c3626764179d58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">krismantoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebijakan Pendidikan yang Memiskinkan</title>
		<link>http://orangmuda.wordpress.com/2007/06/15/kebijakan-pendidikan-yang-memiskinkan/</link>
		<comments>http://orangmuda.wordpress.com/2007/06/15/kebijakan-pendidikan-yang-memiskinkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jun 2007 10:31:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Novenanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[NINO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangmuda.wordpress.com/2007/06/15/kebijakan-pendidikan-yang-memiskinkan/</guid>
		<description><![CDATA[“Seperti biasa,” begitu kata berita di sebuah stasiun televisi swasta, “menjelang tahun ajaran baru Kantor Pegadaian banyak didatangi orang.” Diceritakan kemudian, di Banten ibu-ibu rumah tangga mendatangi Kantor Pegadaian sambil membawa beberapa lembar kain yang dimilikinya. Satu lembar kain dihargai Rp 5.000. Jika mereka membawa sepuluh lembar kain, uang Rp 50.000 sudah ditangan. Ada juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=13&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><font face="Times New Roman">“Seperti biasa,” begitu kata berita di sebuah stasiun televisi swasta, “menjelang tahun ajaran baru Kantor Pegadaian banyak didatangi orang.” Diceritakan kemudian, di Banten ibu-ibu rumah tangga mendatangi Kantor Pegadaian sambil membawa beberapa lembar kain yang dimilikinya. Satu lembar kain dihargai Rp 5.000. Jika mereka membawa sepuluh lembar kain, uang Rp 50.000 sudah ditangan. Ada juga yang membawa panci/rantang untuk digadaikan. Harga barang yang terakhir ini sedikit lebih mahal dibandingkan selembar kain. Uang hasil menggadaikan barang itu akan digunakan sebagai tambahan modal untuk mendaftarkan anak-anak mereka masuk ke sekolah. Sedikit memang hasil yang didapat namun bagi mereka ini cukup berarti daripada tidak ada tambahan dana sama sekali.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Perihal pendanaan pendidikan masih menjadi akar dari tidak tuntasnya problem pendidikan di Indonesia. Masih banyak anak-anak dari keluarga miskin tidak bisa sekolah, atau harus putus sekolah, hanya gara-gara tidak bisa membayar biaya sekolah. Beragam usaha pun dilakukan untuk meminimalkan angka putus sekolah ini. Di beberapa daerah, sudah muncul inisiatif dari pemerintah daerah untuk menekan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) di sekolah-sekolah negeri menjadi serendah mungkin, bahkan ada yang menggratiskan SPP untuk sekolah negeri.</font></span><span><font face="Times New Roman">Kebijakan menggratiskan SPP bisa dilihat sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap pentingnya akses atas pendidikan. Namun rupanya kebijakan macam ini masih belum menyentuh pada akar masalah kesulitan pendanaan pendidikan keluarga miskin, apalagi menyelesaikan masalah. Di Jakarta, meskipun sebagian besar warga miskin sudah mendengar tentang kebijakan pemerintah daerah yang menggratiskan SPP namun mereka masih khawatir tidak bisa membiayai sekolah anak-anak mereka (<em>Kompas, </em>13/6).</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Kebijakan menggratiskan SPP memang cukup efisien bagi pemerintah dan kepala daerah untuk menarik perhatian publik sekaligus mendongkrak citra dan popularitasnya. Akan tetapi, SPP bukanlah komponen utama (dan terbesar) ketika berbicara tentang biaya pendidikan. Ada komponen biaya pendidikan lainnya yang menghantui warga masyarakat. Ironisnya biaya pendidikan yang menghantui ini muncul akibat kebijakan yang dibuat pemerintah sendiri.</font></span><span><font face="Times New Roman">Tentang buku pelajaran, misalnya. Sekarang bukan jamannya kakak kelas bisa mewariskan buku pada adik kelasnya. Mulai tahun ajaran 2007/2008 nanti kurikulum berbasis kompetensi (KBK) sudah berganti dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Artinya, buku pelajaran yang digunakan pun harus ganti. Buku yang dipakai tahun ini tidak bisa dipakai untuk tahun berikutnya. Kondisi semacam ini bukan yang pertama kali terjadi. Hampir setiap tahun buku pelajaran harus ganti seiring dengan berubahnya kurikulum yang diberlakukan pemerintah. Meskipun kurikulum tidak berganti, namun buku pelajaran harus direvisi untuk mencapai kesempurnaan, yaitu kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku. Setelah beberapa tahun berjalan, ketika buku sudah sesuai dengan kurikulum, pemerintah pun membuat kebijakan untuk mengganti kurikulum. Logika buku pun tak kalah dengan prinsip yang dipakai oleh produk-produk instan, “sekali pakai langsung buang”. Pergantian kurikulum memang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita, namun pemerintah seperti tidak pernah jera melihat efek domino dari pergantian kurikulum itu.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Hal ini dilihat sebagai peluang proyek bagi pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan dari siswa. Tak jarang pihak sekolah pun terlibat dalam proyek pengadaan buku dengan mewajibkan siswanya untuk membeli buku pelajaran melalui sekolah. Namun pengadaan buku kolektif oleh pihak sekolah pun tidak membuat harga buku menjadi lebih murah dibandingkan dengan harga di toko buku. Tak jarang, harga buku yang ditawarkan sekolah jauh di atas harga ‘normal’.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Lalu, siapa yang bisa membeli buku? Ya, tentu saja, anak yang berasal dari keluarga mampu, sementara anak-anak dari keluarga miskin hanya bisa gigit jari. Buku sebagai gudang ilmu pun semakin jauh dari kelompok yang terakhir, pengetahuan pun semakin sulit terjangkau.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Kebijakan lain yang juga berdampak pada masalah membengkaknya dana pendidikan adalah ujian nasional. Sistem ujian nasional telah mendorong para siswa, guru dan orangtua untuk terikat dengan layanan jasa yang ditawarkan lembaga bimbingan belajar (LBB). Peran guru sebagai pendidik pun digantikan oleh para tentor dari LBB. Siswa dilatih agar terampil mengerjakan soal secara benar, tanpa perlu mengetahui substansi dari mata ajar yang dikerjakan.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Akibatnya, bisa jadi siswa yang memiliki cukup uang dan bisa ikut LBB akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk lulus ujian nasional karena mereka bisa menjawab soal-soal ujian nasional secara lebih cepat dan tepat. Nasib kurang beruntung dialami siswa dari keluarga pas-pasan yang tidak memiliki kelebihan uang untuk menyertakan anaknya di LBB. Akibatnya, semakin sedikit dari kelompok ini yang menjadi terampil dalam mengerjakan soal-soal ujian nasional. Kesempatan untuk lulus pun semakin jauh.</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Salah satu tujuan pendidikan adalah kesempatan untuk menaikkan status sosial keluarga miskin. Akan tetapi dari fakta kebijakan pendidikan yang ada justru mengarah pada hal yang sebaliknya. Sekolah sebagai sarana meningkatkan martabat keluarga miskin hanyalah mitos belaka. Sekolah telah menjadi sarana utama untuk menghisap modal-modal ekonomi masyarakat, berlaku juga bagi keluarga miskin. Maka benarlah yang ditulis sosiolog Prancis Pierre Bourdieu, sekolah pun hanya berfungsi untuk mereproduksi perbedaan dalam masyarakat (<em>distinction</em>).</font></span></p>
<p><span></span><span><font face="Times New Roman">Pendidikan yang berkualitas butuh biaya yang tidak murah. Kondisi ekonomi keluarga memang kerap tidak bersahabat bagi anak-anak dari keluarga miskin yang ingin mendapatkan pendidikan yang layak. Pertanyaannya, apakah biaya pendidikan itu harus ditanggung sendiri oleh anak-anak dari keluarga miskin? Tak bisakah pemerintah membuat kebijakan yang memang memperhatikan kepentingan anak-anak ini?</font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/orangmuda.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/orangmuda.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/orangmuda.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/orangmuda.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/orangmuda.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/orangmuda.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/orangmuda.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/orangmuda.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/orangmuda.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/orangmuda.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/orangmuda.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/orangmuda.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/orangmuda.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/orangmuda.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/orangmuda.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/orangmuda.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=13&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangmuda.wordpress.com/2007/06/15/kebijakan-pendidikan-yang-memiskinkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e18626f9672d5aaeef3d6a96b94c72c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">NINO</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kang Je Jatuh Cinta</title>
		<link>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/14/kang-je-jatuh-cinta/</link>
		<comments>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/14/kang-je-jatuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Feb 2007 07:05:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Novenanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[ANJAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/14/kang-je-jatuh-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Jatuh cinta berjuta rasanya&#8230; Dibelai-dibelai amboi rasanya… Aih. Percaya nggak percaya, lagu itu keluar dari mulut laki-laki gagah yang selama ini telah menjadi panutanku sekian lama. Aku jadi cengar-cengir melihat gaya dan suaranya itu. Kalau soal suaranya sih dijamin yahud deh. Tapi, kalo gayanya itu yang… waduh… Kalo kata temanku sih, gayanya itu norak-norak bergembira [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=12&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Jatuh cinta berjuta rasanya&#8230; </span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Dibelai-dibelai amboi rasanya…</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 6pt;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Aih.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Percaya nggak percaya, lagu itu keluar dari mulut laki-laki gagah yang selama ini telah menjadi panutanku sekian lama. Aku jadi cengar-cengir melihat gaya dan suaranya itu.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kalau soal suaranya sih dijamin yahud deh. Tapi, kalo gayanya itu yang… waduh… Kalo kata temanku sih, gayanya itu norak-norak bergembira deh…</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Ah, biarkan saja orang  mengatakan demikian. Toh, Aku juga tidak memaksa mereka untuk melihat gayaku yang seperti ini,” jawab Kang Je cuek sambil tetap bernyanyi-nyanyi dan sesekali menari. Kayaknya dia nggak peduli pasang mata melihat penuh keheranan begitu.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Ya, emang nggak pa-pa sih.. Cuma aneh aja.” Aku masih memandangNya takjub. “Memangnya Kang Je sedang jatuh cinta dengan siapa sih?”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kang Je menyetop lagu yang Ia nyanyikan sedari tadi. Ia menatapku dengan kedalaman mata beningNya. Duh…, mana tahan aku belama-lama bersirobok denganNya begini. Segera kupalingkanlah wajahku dariNya. Pura-pura melihat pemandangan lain.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Aku jatuh cinta padamu, anakKu…”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Waduuuhhh… Gedubrak deh…</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Suara lembut itu luar biasa terdengar di telinga. Bikin hati yang semula tenang, mendadak berdegup kencang. Aku seperti melayang di langit ketujuh. Luar biasa.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Sudah lama aku tak mendengar ada orang yang mengucapkan kalimat itu di telinga. Semerdu dan setulus itu pula. Wuahhh… Aku jadi merasa seperti baru pertama kali mendengar kalimat itu dari orang yang sangat istimewa.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“BagiKu, engkau adalah orang yang benar-benar indah, tiada dua dan istimewa. Tiada yang bisa menyamakan dirimu dengan yang lain.”</span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Walah… Ini gimana… Kok aku jadi salah tingkah, yaa???</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Kenapa? Apakah kamu tidak percaya bahwa Aku sungguh-sungguh mencintaimu?” Kang Je  ragu-ragu sendiri melihatku salah tingkah tadi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Bukan nggak percaya sih… Tapi… Tapi…,” aku jadi malah kebingungan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kang Je mendekatiku. “Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang harus Aku ungkapkan. Menyatakan apa yang harus Kunyatakan.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Apakah itu berarti Engkau juga menginginkan aku mengatakan yang sama pula?”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kepala Kang Je menggeleng pelan. “Bukankah kasih itu tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri? (1Kor 13:5) Ketika Aku menyatakan hal itu padamu, memang demikianlah yang Kurasakan padamu. Adalah hakmu jika untuk menyatakan juga atau tidak.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Keningku berkerut.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Repot juga perbincangan Kang Je kali ini.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Sebagai manusia biasa jelas aku nggak bisa langsung menerima pernyataan perasaan dari sebuah cinta seseorang. Bukankah aku harus melihat sungguh dulu bagaimana perasaanku kepadanya supaya tidak terjadi penyesalana belakangan? Tapi, bayangkan saja kalau yang barusan  terjadi adalah antara relasi manusia laki-laki dan perempuan, apakah pasti ada semacam keinginan agar juga ditanggapi sama? Keinginan untuk sama saling dicintai itu yang mungkin membuat orang berani untuk menyatakan perasaannya kepada yang lain walau itu berarti harus bersiap pada bentuk kekecewaan yang bisa saja menyergap.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Aku manusia biasa, Tuhan… Kalau aku menyatakan cinta pada orang lain, pasti dong aku ingin orang itu menanggpi hal yang sama denganku. Namanya juga jatuh cinta. Pasti selalu ingin yang indah-indah. Bukan yang sedih apalagi kecewa.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kali ini kepala berambut gondrong itu manggut-manggut. Nampaknya Ia sangat mengerti. Biar bagaimana pun, aku kan manusia biasa. Susah lah kalau dihadapkan kenyataan untuk berpikir sama denganNya yang mempunyai ketulusan serta keiklasan lebih. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Seringkali kita menyalahgunakan arti cinta karena kata yang seharusnya digunakan adalah keinginan untuk mendominasi atau menguasai. Apalagi jika ada istilah cinta itu membutakan menguasai dirimu, ahh.. Tak jarang pula Aku temui luka yang menganga disebabkan olehnya.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Betul. Betul. Cinta buta. Aku pernah merasakannya,” sambarku begitu ingat kejadian lalu nan menyedihkan, tapi kini sungguh menjadi pengalaman berharga.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Apa yang kamu lakukan ketika hal itu terjadi, anakKu?” Kang Je mendadak ingin tahu.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Aku menggaruk-garukkan kepalaku yang tidak gatal. Ini sebagai upayaku mengingat masa lalu yang sesungguhnya tidak menyenangkan untuk dikenang lagi itu.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Waktu itu sih, aku sangat merasa dia adalah jodohku. Dia adalah orang yang Kau tunjuk mendampingi hidupku. Segala hal aku lakukan demi mencapai keinginanku itu. Tiap kali kekecewaan datang menyergapku, justru menguatkanku untuk terus memburu, mengejar dan berupaya mencapai keinginan itu. Segala nasihat, logika bahkan kenyataan di depan mata aku anggap angin lalu. Aku pikir itu godaan saja. Hingga akhirnya aku disadarkan bahwa aku salah melangkah, bahwa cintaku justru mengekang kehendak bebasnya.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kang Je diam saja memperhatikanku cerewet bercerita.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">MataNya begitu teduh memperhatikan. Sementara telingaNya lebar Ia buka. Rambut panjang yang sedikit menutup telinga, Ia singkap dulu. Pokoknya segala perhatian tercurah hanya buatku. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Alam yang menyertai kami sedari tadi, memberi tambahan nuansa lain. Suasana sejuk menyelimuti. Resah dan bentuk kesedihan yang sempat menyergap sebab mengingat masa lalu, selaksa terusir oleh kehadiran bunyi burung kecil yang bernyanyi seperti menjadi lagu latar atas ceritaku.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Maksudku adalah berbahagia dan memberi kebahagiaan baginya. Tapi, belum apa-apa nyatanya aku terlalu egois atas kehendakku sendiri. Aku lupa dan tak mau memperhatikan apa yang sesungguhnya diinginkan olehnya, bukan hanya olehku.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Tangan kekar Kang Je menepuk-nepuk bahuku. “Seperti yang pernah Kukatakan, dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4) Kahlil Gibran pun berkata ‘Cinta tidak memiliki dan tidak dimiliki karena cinta cukup untuk cinta’ sebab karena cintlah yang membebaskan segala beban.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kutengadahkan kepala.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Sungguh. Ia memang adalah sumber segala cinta. Semua perkataannya menyatakan hal itu. Tak dapat kusangkal, bahkan sehuruf pun.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Belajarlah mengikis egoismemu, anakKu. Karena mencintai berarti memberi bukan menginginkan, bukan juga mencari kepenuhan kebutuhan emosi.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kuangguk-anggukkan kepala. Ku mengerti kini. Tinggal semua bisa kulaksanakan segala nasehat itu dengan baik.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Jadi, ijinkanlah cintaKu terus membekas dan menyertai hari-harimu. Jikalau kamu tak yakin ada orang lain yang mencintamu, ingatlah bahwa cintaKu tak kan berkurang bahkan jikalau engkau tak mau menanggapi cintaKu ini…”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Ah, Kang Je… Aku juga jatuh cinta padaMu…” Tiada ragu kupeluk kencang tubuh tinggi nan menenangkan dan penuh rasa aman itu. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Dan, aku pun mendapat tanggapan yang tak berkekurangan. Berlebih malah kukira.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">“Sebarkanlah cinta kasih ini kepda seluruh manusia, anakKu. Dimana dan kepada siapa pun. Tak usah hirau kau mendapat tanggapan atau tidak. Sebab jika saatnya tiba, bahagia berlapis cinta akan datang kepadamu. Sempurna. Lebih dari yang kau pikirkan selama ini.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Terima kasih, Kang Je…</span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">I love You…</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">(untuk cinta yang disadarkanNya, 14 Feb 2007)</span></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/orangmuda.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/orangmuda.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/orangmuda.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/orangmuda.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/orangmuda.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/orangmuda.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/orangmuda.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/orangmuda.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/orangmuda.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/orangmuda.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/orangmuda.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/orangmuda.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/orangmuda.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/orangmuda.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/orangmuda.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/orangmuda.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=12&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/14/kang-je-jatuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e18626f9672d5aaeef3d6a96b94c72c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">NINO</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan politik itu soal peningkatan kapasitas kita bertindak</title>
		<link>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/pendidikan-politik-itu-soal-peningkatan-kapasitas-kita-bertindak/</link>
		<comments>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/pendidikan-politik-itu-soal-peningkatan-kapasitas-kita-bertindak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Feb 2007 03:03:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>krismantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[LILIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/pendidikan-politik-itu-soal-peningkatan-kapasitas-kita-bertindak/</guid>
		<description><![CDATA[Pengalaman hidup di tataran basis kemasyarakatan mengajari kita, niat baik tidak cukup untuk bertahan hidup. Niat baik hanya hidup ketika ia disertai kapasitas diri yang mencukupi untuk ambil bagian dan tanggung jawab dalam realitas sosial an tantangan jaman. Ada banyak cara orang menghidupi hari-harinya. Lewat profesi, lewat komunitas, lewat studi, dan lain-lain. Bagi kita orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=11&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Pengalaman hidup di tataran basis kemasyarakatan mengajari kita, niat baik tidak cukup untuk bertahan hidup. Niat baik hanya hidup ketika ia disertai kapasitas diri yang mencukupi untuk ambil bagian dan tanggung jawab dalam realitas sosial an tantangan jaman.</span></em></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Ada banyak cara orang menghidupi hari-harinya. Lewat profesi, lewat komunitas, lewat studi, dan lain-lain. Bagi kita orang muda, lewat sekolah, kuliah, dan kerja, lewat kelompok pergaulan, dan aneka komunitas hidup bersama. Di tengah keragaman jalan melakoni hidup itu, ada satu yang tak bisa dipungkiri, bahwa tekanan sosial itu terus makin meninggi, bahwa semakin banyak hal-hal yang diluar jangkauan pencapaian kapasitas kita sebagai individu. Televisi, urusan politik nasional, perang, terorisme, adalah makanan kita sehari-hari, yang sangat dalam merasuk kesadaran kita, yang sangat kita tahu mempengaruhi hajat hidup kita saban hari, namun yang sekaligus kita rasakan pula, betapa itu semua di luar jangkauan kemampuan kita sebagai manusia biasa, sebagai orang-orang muda kampung, sebagai mahasiswa, ataupun pelajar sekolah menengah. “<em><span style="font-family:Sylfaen;">Aku prihatin dengan pengaruh perkembangan isi televisi bagi moralitas bangsa ini, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa.</span></em>” Kata seorang sobat mudika yang kebetulan kuliah di Jurusan Komunikasi. Di lain kesempatan, seorang kawan mudika yang lain berkata, “<em><span style="font-family:Sylfaen;">aku nggak tahu kemana lagi harus mencari kerja, nggak ada lowongan untuk jebolan SMA.</span></em>” Atau dengar pula tuturan sobat pelajar kita “Aku sekolah di sekolah negeri, <em><span style="font-family:Sylfaen;">aku nggak tahu kenapa ada perasaan dipinggirkan sebagai seorang Katolik di sekolahku.</span></em>”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Entah ada berapa banyak keluhan yang bermunculan di tengah perbincangan keseharian kita. Yang jelas, pertama-tama ada perasaan negatif, ketertindasan, kelumpuhan, dan sejenisnya. Kedua, bahwa ada sesuatu yang di luar sana yang terus-menerus memunculkan kondisi-kondisi negatif itu. Hanya saja siapa dan bagaimana, <em><span style="font-family:Sylfaen;">‘yang di luar sana’</span></em> tetaplah sesuatu yang tak berbentuk dan tak bernama.</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span></strong></p>
<p style="margin:0 0 6pt;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Mengartikan ‘Politik’</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Banyak orang menganggap pendidikan politik sebagai sesuatu yang menyeramkan. Itulah bagaimana kita dilatih selama lebih dari tiga puluh tahun di sekolahan dan masyarakat. Perkaranya sederhana, melek politik itu membuat seseorang bisa bersuara. Dan penguasa negeri ini tahu, ribuan dan jutaan suara akan sangat menyeramkan baginya, maka sebelum bayi-bayi bisa membuka mata, sebelum anak-anak bisa berkata-kata, penguasa itu sudah pasang kuda-kuda dengan terlebih dahulu memasang wajah seram. Trik dan strateginya ada banyak cara, salah satunya ya itu tadi, dengan menyebarluaskan kisah-kisah seram tentang politik, dan segala hal lain yang bisa dikait-kaitkan dengan tetek bengek negara.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Maka marilah kita balik logika ini, <em><span style="font-family:Sylfaen;">betapa seramnya hidup tanpa politik bagi kita, karena dengan begitu para penguasa bisa dengan sewenang-wenang mempergunakan kekuasaan mereka</span></em>.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Pendidikan politik itu sendiri sesungguhnya adalah perkara yang sangat sederhana. <em><strong><span style="font-family:Sylfaen;">Pendidikan politik adalah proses memberi nama.</span></strong></em></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"><em><strong><span style="font-family:Sylfaen;"></span></strong></em></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Pertama-tama, </span></em><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">kita</span></em></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"> </span></em><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">bisa merumuskan keadaan kita</span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">, kita bisa menamai rasa lelah menonton televisi yang selama ini tak bisa kita pahami ternyata akibat serbuan terus-menerus dari aneka pesan tanpa aturan, tanpa kita sendiri diberi kesempatan bersuara. Kata Romo Mudji Sutrisno dalam sebuah wawancara di televisi beberapa tahun lalu, terlalu banyak impresi daripada ekspresi, terlalu banyak hal-hal masuk daripada yang kita keluarkan dari dalam diri. Air dalam gelas pun akan tumpah bila dituang air tanpa henti, apa lagi manusia yang punya jiwa dan rasa.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kedua</span></em><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">, kita bisa merumuskan keberadaan kita</span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">. Pendidikan politik membuat kita sadar bahwa ada sesuatu di balik keadaan kita yang memungkinkan itu semua terjadi. Ada alasan dan tatanan dibalik serbuan televisi pada kesadaran kita sehari-hari. Ada alasan mengapa mereka menyodori kita dengan kelap-kelip AFI, horor, kriminalitas, seks. Perkaranya sederhana, mekanisme rating tontonan menentukan ke televisi mana aliran uang para pemasang iklan akan dialirkan. Semakin populer, semakin banyak ia ditonton, semakin tinggi harga jualnya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Artinya di hadapan televisi dan media massa yang terkapitalisasi, kita tak lebih dari sekedar komoditas yang dijual para pemilik media pada pemasang slot iklan sepanjang jam tayang mereka. Ini berarti ganda, pertama kita dibendakan, kita hanyalah angka prosentase yang bisa dijual; kedua, media massa yang melulu berpikir keuntungan bisnis sama sekali tak pernah peduli soal dampak sosial. Tak peduli apa pengaruhnya pada karakter dan moral masyarakat, tak peduli pada berapa banyak anak-anak di bawah umur menjadi korban kebudayaan, tentu juga, tak peduli pada kegundahan seorang sobat mudika yang kuliah di jurusan Komunikasi tadi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Inilah <em><span style="font-family:Sylfaen;">kesadaran struktural</span></em>, ada sesuatu, struktur besar yang bekerja secara sistematis yang menentukan hajat hidup kamu, teman kamu, dan semua tetangga-tetangga kita yang bebas dari kontrol sosial, dari kendali kita. Syukur-syukur di wilayah kelembagaan negara, hadirnya partai-partai, pemilu, dan parlemen, sedikit bisa mengatasi. Tapi bagaimana dengan badan swasta, perusahaan raksasa nasional dan global yang banyak di antara mereka memiliki kapasitas keuangan dan manajemen melebihi sebuah negara, siapa akan mengendalikan mereka?</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Ketiga, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">pendidikan politik menuturkan pada kita, <em><strong><span style="font-family:Sylfaen;">bahwa ada cara lain menghidupi kemanusiaan kita</span></strong></em>, bukan sekedar saling berebut menumpuk uang dengan segala cara, termasuk menjual moralitas bangsa dan <em><span style="font-family:Sylfaen;">wulu wetu</span></em> ibu bumi tumpah darahnya, inilah yang membuat kita masih bisa terus berharap dan bersyukur, masih ada sesuatu di depan sana yang bisa kita gadhang-gadhang, kita harap-harapkan, dan sekaligus kita perjuangkan. Tentu ini bukan sebuah mimpi utopis semata, tentu ini haru berangkat dari analisa dan kajian sosial yang mendalam yang berpijak pada kearifan tradisi dan kehidupan. Bukan hanya ini, ‘<em><span style="font-family:Sylfaen;">cara lain</span></em>’ ini juga berbicara tentang kebutuhan akan kerjasama, organisasi, program, dan langkah-langkah terpadu dari kerja kemanusiaan. Demikianlah pendidikan politik membuat kita sadar bahwa kita masih punya harapan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Keempat, </span></em><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">bahwa kita punya teman</span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">. Bahwa kita tak sendiri, bahwa kita bisa dan harus menjalin persahabatan-persaudaraan dengan semua orang yang juga memiliki kehendak baik yang bernyala dalam jiwa kemanusiaannya. Sebagai perintis-pembuka jalan, lewat pembacaan sejarah kita tahu kehadiran orang-orang yang telah melangkah didepan kita, sebagai pandu-pandu perjuangan kemanusiaan. Sebuah pengalaman sharing bersama para senior kita. Di ujung yang lain, kita juga sadar, bahwa dengan bertindak kita telah meninggalkan jejak pada para adik-adik kita, untuk memberi mereka sebuah model, sebuah contoh kecil, untuk mewariskan pada mereka pengalaman dan pengetahuan yang telah kita himpun sepanjang gerak hidup kita mengemban tanggung jawab atas jaman ini. Inilah solidaritas <em><span style="font-family:Sylfaen;">eskatologis</span></em>, solidaritas pada masa lalu dan masa depan. Dan bukan hanya ini, solidaritas eskatologis juga merujuk pada kesadaran bahwa ada jalan-jalan lain yang ditempuh oleh para tualang lain, dalam aneka cara, dalam aneka semangat yang dihidupi, sebagai agama-agama, sebagai ajaran-ajaran, teks, narasi, atau komunitas. Di sinilah solidaritas eskatologis itu menjelma menjadi sebuah perjalanan bersama, sebuah solidaritas kebudayaan, solidaritas akan ‘<em><span style="font-family:Sylfaen;">yang lain</span></em>’.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Kelima, </span></em><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">bahwa kita punya harta warisan kebudayaan</span></em></strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"> yakni himpunan pengetahuan dan kapasitas yang disatukan abad demi abad kerja kemanusiaan. </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Bahwa atasnya kita punya tanggung jawab tidak hanya ke masa lalu, para perintis, namun juga masa depan, para penerus kehidupan. Dan bahwa kita tak memulai dari titik nol. Bahwa ada wawasan, pengetahuan, strategi, makna, hingga institusi dan jaringan, yang kita terima sebagai warisan teladan dan model. Kita pun tak boleh lupa, betapa Gereja, sebagai komunitas, institusi, dogma, ajaran, hingga lembaga-lembaganya yang paling canggih ataupun paling lokal di kampung-kampung dan karang padesan, adalah bagian dari warisan perjuangan manusia Yesus dua ribu tahun yang silam untuk membela martabat kehidupan pada jamannya. Kita bersyukur betapa warisan itu telah berlipat ganda dari abad ke abad sejarah kita. Juga karenanya lantas, bahwa kita hanyalah satu bagian kecil dari kerja besar ini, yakni pemenuhan karya penciptaan, pemulihan kembali martabat manusia dan kehidupan, setelah Adam dan Hawa terusir dari surga keilahian.</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"> </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"> </span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Politik sebagai tanggung jawab kehidupan</span></strong></p>
<p></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Di dunia dimana struktur-struktur besar mengakumulasikan keuntungannya dengan terus menerus menjauhkan kendali manusia lokal dari hidup kesehariannya.,(lewat televisi yang mengasingkan kita dari tetangga, hingga melariskan bisnis konsultasi psikologis karena kita telah kehilangan konselor/pendamping kita yang alami, para orang tua, teman, dan tetangga kita), tetap ada wilayah-wilayah dimana kita bisa dengan penuh kepastian menentukan dan menegaskan sesuatu. Lokalitas, eksistensi hidup kita sehari-hari, karena disitulah –sekecil apapun- wilayah otoritas pemahaman dan kesadaran kita sebagai manusia. Dan tepat dari situlah pendidikan politik dan transformasi sosial itu dimulai. Bahwa kita sungguh hadir kembali dalam realitas dan tantangan hidup keseharian, bahwa kita ambil bagian di dalamnya. Bahwa waktu kita tak lagi disandera jam-jam tayang televisi, bahwa kita bisa berbincang kembali dengan semua orang sebagai manusia dan pribadi.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Tentu, pendidikan politik bukanlah mekanisme instant yang membuat kita lalu serba bisa, tapi yang jelas, ia memampukan kita membangun peta, membuka pintu kesadaran akan realitas sosial yang makin terstruktur oleh kekuasaan makro ini, dan turut terlibat merancang agenda perubahan sosial, di berbagai tingkatan, terlebih dan secara khusus, bagi kita di level basis kemasyarakatan sehari-hari, turut terlibat dalam memperkuat hidup bersama di tengah  tantangan jaman lewat berbagai kerja bersama pemberdayaan dan pembelaan hak-hak dasar kita sebagai manusia dan warga negara.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Sylfaen;">Di tengah realitas yang semakin terpolitisasi, di tengah kebudayaan dimana kekuasaan dan dominasi makin cerdik menyembunyikan diri ini –sebagai rayuan-rayuan iklan, model-model cantik, bahkan pesan-pesan berbau religius, kebangsaan, dan moral- semoga kita makin sadar, berpolitik adalah cara kita bertanggung jawab atas kehidupan. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/orangmuda.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/orangmuda.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/orangmuda.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/orangmuda.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/orangmuda.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/orangmuda.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/orangmuda.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/orangmuda.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/orangmuda.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/orangmuda.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/orangmuda.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/orangmuda.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/orangmuda.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/orangmuda.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/orangmuda.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/orangmuda.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=11&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/pendidikan-politik-itu-soal-peningkatan-kapasitas-kita-bertindak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eafa5e503e96894a86c3626764179d58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">krismantoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Lini Tengah</title>
		<link>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/membangun-lini-tengah/</link>
		<comments>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/membangun-lini-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Feb 2007 03:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>krismantoro</dc:creator>
				<category><![CDATA[LILIK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/membangun-lini-tengah/</guid>
		<description><![CDATA[(respon atas tulisan Bp. J. Sudjati Djiwandono, Memasuki Tahun Orang Muda, HIDUP, 23 dan 30 Januari 2005)  Tahun 2005 telah dicanangkan sebagai Tahun Orang Muda oleh KWI. Persoalan pertama yang dihadapi tentu saja, bagaimana ia dikongkretkan di tataran basis gereja kita. Dan sejauh pembacaan penulis atas dinamika gereja baik lokal maupun nasional, agalnya seruan Tahun Orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=10&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">(respon atas tulisan Bp. J. Sudjati Djiwandono, Memasuki Tahun Orang Muda, HIDUP, 23 dan 30 Januari 2005)</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span> <span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Tahun 2005 telah dicanangkan sebagai Tahun Orang Muda oleh KWI. Persoalan pertama yang dihadapi tentu saja, bagaimana ia dikongkretkan di tataran basis gereja kita. Dan sejauh pembacaan penulis atas dinamika gereja baik lokal maupun nasional, agalnya seruan Tahun Orang Muda ini pun akan bernasib sama seperti berbagai pesan gereja yang lain, dengan respon yang tipikal : dirayakan sebagai misa, diseminarkan, didoakan, namun kehilangan daya dorong ketika tiba di dataran parsis sosial. Tulisan ini sendiri bermaksud memberi kontribusi kecil pada penggarapan programatik dari ajakan pada orang-orang muda tersebut tersebut.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Belajar dari pengalaman kampanye komunitas basis</span></strong></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Seruan untuk kembali pada komunitas basis sungguh menjadi pengalaman yang berharga bagi kita semua. Bukan pada gagasan komunitas basis itu sendiri yang memang sebuah keniscayaan di jaman ini, namun pada kelemahan teknis yang mendasar namun sangat fatal. Sebuah seruan pastoral hanya akan mendarat di dataran paling praksis dari masyarakat kalau ia disertai instrumentasi yang tempat. Memang benar bahwa pesan komunitas basis telah menggetarkan gereja begitu rupa, mungkin karena kuatnya karakter hirarkhis dari gereja kita, namun sayangnya, gereja tidak terlebih dahulu mempersiapkan pekerja-pekerja akar rumputnya untuk terus memelihara kerja-kerja Roh di tataran basis. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Demikian pula pengalaman kita dengan perayaan Yubileum Agung 2000, ataupun Tahun Kaum Muda Keuskupan Agung Semarang beberapa tahun lalu. Kedua event besar tersebut lebih nampak ketergesa-gesaan gereja yang gagap menyikapi jaman. Dan karena ia sebuah respon reaksioner dari situasi keprihatinan kongkrit di lapangan, ia tak memiliki karakter kedalaman dan kematangan programatik yang niscaya dibutuhkan untuk mentransformasikan semua keprihatinan menjadi gerakan sosial di tengah-tengah gereja.</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Kalau mau jujur, saat ini gereja hanya memiliki satu gerakan yang sungguh-sungguh membasis, dan itu bernama Karismatik. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Gereja harus sadar, dibutuhkan lebih dari sekedar seruan untuk sebuah gerakan sosial. Bukan hanya visi, misi, instrumen konseptual, namun sebuah masyarakat epistemik yang siap merespon dalam kerja kongkrit di lapangan dan umpan balik. Inilah yang hilang satu generasi terakhir ini.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Angkatan kader militan sudah habis, kaderisasi pekerja awam yang sesungguhnya pun telah lebih dari satu generasi terhenti. Dan sungguh memang sudah bukan saatnya lagi kita bekerja dengan model-model usang. Kalau dulu pada mereka bisa dipercayakan ‘daya getar’ gerakan sosial gereja, jaman ini, dengan konteks kultural dan struktural yang kita hadapi, kita membutuhkan model lain bagi untuk menghidupi seruan-seruan Roh.</span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lini Tengah sebagai Garda Depan</span></strong></span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span>Inilah saatnya gereja memusatkan diri membangun lini tengah dalam dirinya sebagai titik paling lemah dalam gereja Indonesia, sementara gereja institusi relatif terkonsolidasi dan gereja sebagai payung jemaat yang sangat heterogen relatif terjaga dalam tradisi gereja lokal masing-masing. Lini tengah di sini diartikan, masyarakat dan institusi kritis yang bukan hanya mampu menerjemahkan pesan-pesan moral maupun kultural dari gereja, namun mampu menjalankan fungsi-fungsi leadership lokal, memfasilitasi dan mendorong pembacaan analitis yang lebih besar (sebagai titik pijak instrumental bagi aksi visioner apapun dalam masyarakat), membangun gereja setempat sebagai kekuatan epistemik dan kultural bagi lokalnya. Artinya, ia berfungsi menjadi intelektual organik bagi gereja lokal dan masyarakat lokal yang lebih luas.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ini memunculkan beberapa prasyarat : dua prasyarat dalam transformasi perspektif. Pertama, gereja harus membangun <em>civil</em> <em>society</em> internal dalam tubuh gereja sendiri. Bukan dalam kepentingan menggantikan peran hirakhis, namun menjadi tulang punggung bagi gereja dalam artian kekuatan dan bangunan kultural. Sekali lagi kita berbicara tentang keniscayaan gereja awam. Kedua, gereja harus menyadari dirinya sebagai sebuah kekuatan sosiokultural bagi bangsanya, dan disinilah peran transformatif gereja bagi dunia diletakkan.artinya, di sini kita memasuki kebutuhan membangun politik kebudayaan.</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Prasyarat yang lain lebih bersifat teknis ; pertama, kebutuhan pengembangan rencana strategis untuk merespon tantangan gereja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, yang dilakukan secara lebih demokratis dan melibatkan partisipasi awam seluas-luasnya di semua lini. Pelibatan semua lini diarahkan pada upaya memberi kontribusi berfungsinya tenaga-tenaga basis dan kader-kader gereja yang selama cenderung berdiri “di luar pagar” gereja sosiologis, yang notabene sangat membutuhkan <span> </span>kemampuan mereka dalam pengorganisasian dan pencerahan kritis sebagai titik tolak visis gereja kultural. Dan bagi visi gereja kultuiral ini, kedua, gereja harus mampu melakukan pembelajaran-pembelajaran besar bagi dirirnya sendiri. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penulis memetakan ini sebagai pembelajaran kultur dan struktur : pembelajaran kultur baik itu pembelajaran Roh dan tradisi gereja universal/lokal masing-masing, maupun pembelajaran hidup berkomunitas, berkebudayaan yang manusiawi, yang semakin tergerus oleh ekpansi nalar dan institusi kapitalistik. Kedua, pembelajaran struktural dalam dua artian : pertama, penyadaran kritis dalam gereja atas eksistensi ekonomi-sosial-politik dari hidup modern, yang mulai dirintis gereja dalam Nota Pastoral KWI 2004 yang lalu, dan membutuhkan kerja pembasisan yang sangat berat : di situlah arti pembelajaran gereja yang sesungguhnya,<span>  </span>yakni seluruh tubuh sosiologis gereja itu sendiri. Kedua, dalam keterceraiberaian hidup bersama, baik gereja maupun masyarakat modern, dibutuhkan pembelajaran kembali kapasitas hidup dan bertindak praksis tanpa menjadi pragmatis : yakni pencarian dan penegasan kembali state of the art (SOTA, cara-cara praktis) hidup berkomunitas, hidup berinstitusi modern,dan hidup dalam nalar modern. Secara khusus di sini dalam terang pelumpuhan nalar kritis yang dilakukan sistemik oleh Negara Orde Baru selama lebih dari satu generasi, dibutuhkan kapasitas membaca, kemampuan membangun analisa sosial terhadap diri dan masyarakatnya, sebagai titik tolak bagi budaya transformatif bagi diri dan bangsanya, di samping dalam artian kuratif, sebagai instrumen katarsis bagi jebakan pelumpuhan psikologis dari rejim-rejim modal dan rasionalitas.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Lini tengah bukan semata-mata sebuah masyarakat intelektual organis, namun pondasi utama bagi gereja yang organis dengan iman yang sungguh-sungguh organis pula.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p><span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><strong>Bagi orang muda</strong></span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Apa artinya iniI semua bagi pengembangan kerangka pendampingan kaum muda ke depan ?</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Karena orang-orang muda kita jaman ini jauh lebih mengidealkan diri sebagai subyek mandiri, sementara tantangan-tantangan empiris membutuhkan respon yang lebih cepat daripada proses-proses organisasional yang padat prosedur, model kelembagaan yang kita butuhkan mutlak didasarkan pada dua hal ini. Dan sungguh, yang kita butuhkan adalah institusi-institusi jembatan, lembaga-lembaga pendampingan yang membantu orang yang sudah terlanjur hidup dan bernafas dalam nalar pragmatis-fatalisti untuk menemukan kembali karakter, kodrat, dan martabat kemanusiaannya yang utuh, kedalaman spiritual, kekuatan aksi-refleksi jangka panjang, serta kemampuan hidup sosial yang selama ini dirampas daripadanya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sebuah bangunan yang tidak berkarakter organisasional, namun lembaga-lembaga yang menjadi titik silang proses-proses akar rumput, titik silang kultural bagi pembelajaran rohani dan kepribadian di satu sisi, dan tentu saja wawasan sosial-politik-kultural aktual sekaligus <em>capacity </em>dan<em> community</em> <em>building</em> bagi para pekerja basis, syukur-syukur kalau ia bisa menjadi <em>selling</em> <em>point</em> bagi gereja massa. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Youth Center Karya Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang yang dirintis beberapa tahun terakhir bisa menjadi model, meski titik lemah masih dijumpai pada penggarapan wilayah-wilayah non dan postkelas, kapasitas analitis pekerja, isu-isu jangka panjang, pengadaan eksemplar yang akan memfasilitasi pendampingan jarak jauh, respon atas isu-isu sosial politik (sungguh sangat mengherankan mengingat kedekatan YC dengan Yogyakarta), serta pembentukan komunitas pendukung (termasuk pula jejaring pendamping komunitas) yang akan memberinya akar dan kaki yang kokoh di tengah gereja muda. Yang terakhir ini juga akan sangat membantu mengisi kekurangan besar pada populasi pekerja di lembaga tersebut. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Pada titik ideal kalau kita berandai-andai, seorang pendamping gereja muda hanya akan bekerja di wilayah-wilayah visioner dan <em>blank</em> <em>spot</em> dari kerja-kerja gereja muda, sementara, dengan sebuah etos dan kapasitas praksis yang telah terlatih dan mentradisi, pekerja-pekerja gereja muda akan secara organis memelihara dan mendorong transformasi komunitasnya. Ini tentu sebuah impian jangka panjang.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dalam konteks gereja muda yang kita miliki saat ini, dalam hitungan jangka pendek Tahun Kaum Muda, mungkin manual jauh lebih dibutuhkan, untuk menjadi alat yang paling kongkrit bagi kerja akar rumput. Banyak orang mungkin akan menolak hal ini, namun kondisi lapangan dari gereja muda dimana proses pendampingan dan mentoring telah lama terhenti dan tersendat oleh begitu banyak birokrasi, ia menjadi <em>shortcut</em> yang berguna bagi gereja sebagai gerakan sosial. Setidak-tidaknya ia memberi kita dan pekerja-pekerja akar rumput sebuah lukisan tentang SOTA (<em>state of the art</em>) gereja muda, yang nota bene sebagai kearifan praksis memang telah lama lenyap dari hidup keseharian menggereja kita seiring surutnya apresiasi dan bahkan eksistensi dimensi tradisi-tradisi lokal dalam keragaman proses komunitas gereja yang paling basis.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2005 : Spirit atau Kultur?</span></strong></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Sejauhmana 2005 mengarahkan kita untuk menggarap hal-hal ini ? Ini tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan Tahun Kaum Muda. Sejauh ini Komunitas Basis, seruan tahunan Hari Komunikasi Sosial Sedunia, dan aneka ajakan pastoral lain masih sangat kental sebagai sebuah kerja meniupkan Roh. Semoga konseptor-konseptor kita yang bekerja keras untuk mempersiapkan ini semua tidak setengah-setengah dalam menentukan sikap.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dan sikap ini, bagi saya yang melulu bergerak di kampung-kampung kecil pinggiran kota, adalah tuntutan sederhana namun tegas untuk kembali pada kebudayaan. Gereja muda sebagai kultur orang-orang muda, dan kemudaan sebagai kultur menggereja itu sendiri.</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Yogyakarta, 2004-2005</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;"></span></span></p>
<p></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/orangmuda.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/orangmuda.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/orangmuda.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/orangmuda.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/orangmuda.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/orangmuda.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/orangmuda.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/orangmuda.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/orangmuda.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/orangmuda.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/orangmuda.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/orangmuda.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/orangmuda.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/orangmuda.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/orangmuda.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/orangmuda.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=orangmuda.wordpress.com&amp;blog=695717&amp;post=10&amp;subd=orangmuda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy sharedaddy-dark sd-like-enabled"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://orangmuda.wordpress.com/2007/02/06/membangun-lini-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/eafa5e503e96894a86c3626764179d58?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">krismantoro</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
